twitter
rss









Usianya masih 18 tahun, namun kepandaiannya mengaji dan melantunkan ayat-ayat Alquran dikagumi remaja-remaja sebayanya. Kendati demikian, sebagai remaja, Fatih Seferagic tetap melakoni hobinya dari main games hingga ice skating.

Video Fatih yang melantunkan ayat-ayat Alquran ini ramai tersebar di Youtube dan dibicarakan di berbagai media sosial, dari twitter hingga Facebook. Dalam video itu, Fatih melantunkan qiro'ah dengan menjadi imam salat berjamaah. Semua ayat-ayat panjang itu dilantunkan Fatih di luar kepala.

Seperti dikutip dari Muslim Youth Musing, remaja kelahiran Jerman, 2 Maret 1995 itu mulai belajar menghafal Alquran pada usia 9 tahun dan bisa menghafal Alquran alias hafiz, tiga tahun berikutnya. Fatih belajar di suatu sekolah yang khusus menghafal Quran di Baltimore, Maryland.

Keluarga Fatih yang berdarah Bosnia itu memang pindah ke Amerika Serikat saat usia Fatih 4 tahun. Setelah komplet menghafalkan Alquran, Fatih tetap melanjutkan sekolah untuk mempelajari hadis. Pada 2010, Fatih diterima di Bayyinah Dream Program, yang memungkinkannya untuk belajar bahasa Arab.

Namun demikian, di sela-sela dia belajar agama, pemuda ini juga berorganisasi. Fatih adalah ketua Remaja Masjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas. Dia juga bergabung dengan situs reliji remaja, Muslim Youth Musing. Situs ini membahas permasalahan remaja dilihat dari sudut pandang Islam. Nah, Fatih tergabung menjadi salah satu penulisnya.

Tentu saja, sebagai remaja Fatih juga melakoni hobinya, seperti menulis, membaca, main games, belajar bahasa, filsafat dan psikologi. Dan seperti remaja di Amerika Serikat (AS) pada umumnya, Fatih juga memiliki akun media sosial di Twitter dan Facebook.


Bullying/ngebully merupakan tindakan kekerasan fisik, atau verbal, atau psikologis yang berjangka panjang, dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang kepada orang lain dengan tujuan untuk melukai, menakuti, membuat tertekan, trauma, depresi dan tidak berdaya. Pada masyarakat kita, yang paling banyak ditemukan adalah bully melalui cara-cara verbal, baik dalam pengertian berupa omongan langsung maupun lewat sosial media seperti internet.
Keterbukaan informasi yang terjadi saat ini merupakan kondisi yang sangat mendukung orang-orang untuk 'membully' siapapun dan kejadian apapun yang merangsang minatnya untuk melakukan itu. Masyarakat gampang mengupdate berita tentang seseorang, lalu juga mudah untuk melontarkan bully yang akan dibaca orang banyak misalnya melalui facebook dan tweeter, dan seperti bola salju, bully tersebut mengundang pihak lain untuk melontarkan bully-bully berikutnya sehingga menjadi heboh.

Masalahnya, disatu sisi tindakan ‘ngebully’ bisa merusak dan menyakiti sasaran yang tidak bersalah, namun disisi lain banyak juga sasaran yang 'dibully' tersebut memang masuk akal untuk menerimanya.
Beberapa waktu lalu di tweeter akunnya S*** heboh dengan bully yang ditujukan kepada dirinya, ketika dalam mengupdate statusnya yang lagi jalan-jalan ke Amerika telah salah menyebut kota S** F***** dengan menulis ‘S** F******’.
Selebritis yang memang selalu tampil dengan gaya yang ‘terlalu percaya diri’ ini akhirnya menjadi sasaran empuk bullying yang dilakukan orang-orang lewat akun tweeternya tersebut, barangkali orang-orang memang sudah menunggu-nunggu si artis ini sekali-sekali ‘terpeleset’ agar bisa memperoleh kesempatan untuk ‘meluruskan’ gayanya yang kepedean selama ini.
Kita juga pernah dibikin heboh oleh salah seorang selebritis ABG beberapa waktu lalu yang ‘berusaha untuk menunjukkan kelasnya’ dengan tetap memelihara logat bicara ‘ala’ bule, bahkan termasuk untuk menyebut kosakata ‘kampungan’ seperti : bechek, chulun, bechak, menchruet.
Gayanya ini sempat menjadi ‘trendsetter’ anak-anak muda, tentu saja dalam konotasi ejekan, bahkan sampai dibuatkan ringtone handphone segala.

Perkembangan sarana untuk berkomunikasi membuat ‘naluri ngebully’ masyarakat kita kelihatannya tersalurkan dengan bebas, kita bisa melihat bagaimana ‘kreatifnya’ orang-orang Indonesia dalam menciptakan bully-bully baru yang menarik, seolah-olah menunjukkan bahwa 'ngebully' ini memang merupakan ‘bakat terpendam’ dan menjadi ciri khas dari masyarakat kita yang selama ini tidak tersalurkan karena tidak didukung sarana dan kondisi yang ada. Yang pasti, tindakan bullying, terutama yang bersifat verbal ini merupakan hal yang tidak bisa ditahan dan dikendalikan, karena sudah menjadi bagian dari alam demokrasi, sistem yang mendukung orang-orang untuk bebas bicara mengomentari apapun dan siapapun, apalagi sarana pendukung seperti internet bukanlah suatu alat yang bisa dengan gampang disensor.

Lalu bagaimanakah menurut ajaran Islam untuk menghadapi hal ini..? agar serangan-serangan bully tersebut tidak sampai merusak kita secara psikologis..? Yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah soal tindakan ‘ngebully', bahwa Al-Qur’an dan hadits banyak menasehati kita untuk tidak menyakiti orang lain, termasuk secara verbal, saya tidak perlu panjang lebar menyampaikan hal ini karena mungkin anda sudah kenyang menerimanya.

Kali ini kita lebih bagus bicara soal panduan Islam ketika kita bernasib malang sebagai pihak yang menerima serangan-serangan bully ini.
Sebenarnya sepanjang hal tersebut bukan dalam bentuk kekerasan fisik dan hanya disekitar cemooh/ejekan yang bersifat verbal, maka efeknya yang merusak atau tidak, tergantung diri kita sendiri, apakah yang melandasi niat kita ketika melakukan sesuatu.
Seandainya dasar kita berbuat adalah untuk mempesonakan manusia lain, agar orang lain kagum, untuk menarik perhatian, maka kita sangat rentan terhadap pengaruh negatif bully yang dilakukan orang.
Anda misalnya membuat update status di Facebook atau Tweeter dengan tujuan agar pembaca anda terpesona, maka ketika yang anda terima adalah gelombang bully yang dilontarkan orang, anda akan segera ‘terkapar jatuh’ dengan kepercayaan diri yang langsung lenyap. Itu sudah ‘hukum alamnya’..

Landasilah setiap perbuatan anda dengan hanya mencari ridho Allah, selalu instrospeksi diri ketika memulai suatu perbuatan, apalagi yang berkaitan dengan orang banyak, yang bisa diakses oleh masyarakat ramai, bertanyalah pada diri :”Apakah niat saya mengerjakan ini semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah atau tidak, mungkin apa yang saya lakukan ini salah dan tidak tepat sehubungan dengan keterbatasan saya sebagai manusia biasa, namun saya sama sekali tidak punya niat mau mempesonakan orang, agar mendapat ‘feedback’ dari orang lain, Tindakan yang akan saya lakukan semata-mata untuk mendapatkan ‘feedback’ dari Allah..”.
Dengan melakukan hal seperti itu, sangat tidak masuk akal kalau anda bisa terguncang dengan bully yang mungkin akan anda terima, karena tanggapan orang memang tidak masuk sesuatu yang menjadi hitung-hitungan anda. Bagaimana bisa kita terpengaruh oleh sesuatu yang memang sudah kita anggap sebagai hal yang tidak penting..? Untuk alasan logis ini,

Allah menyampaikan dalam Al-Qur’an :
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (Luqman: 22)

Anda tidak gampang goyang dihantam orang karena memang sedang memegang buhul tali yang kokoh. Nasehat yang praktis bukan..




Saya mengambil contoh persilangan dihibrid seperti yang telah saya tunjukkan di persilangan antar alel. Saya menyilangkan kapri berbiji bulat kulit hitam dengan kapri kisut berkulit hijau. Kita sepakat saja sebagai contoh bahwa bulat hitam dominan. Pada keturunan pertama (F1) diperoleh keturunan bulat hitam (BbHh). Jika persilangan dilanjutkan untuk mencari F2 maka kita silangkan antara F1 dengan sesamanya seperti pada bagan di bawah.





Jika kita menggunakan teknik papan catur maka kedua gamet pada P2 di atas harus dicari kemudian dipasangkan satu per satu. Itu sangat lama dan beresiko salah. Tahu sendiri kan?
Sekarang saya tunjukkan cara yang lebih cepat. Tapi harus diingat bahwa cara yang saya tunjukkan ini hanya berlaku jika kedua parental memiliki genotif yang sama persis. Seperti contoh bagan di atas kedua parentalnya pada P2 adalah BbHh dan BbHh. Jika kedua parental tidak sama genotifnya, gunakan cara ini.
Caranya begini:
  • Tuliskan kemungkinan gamet yang dibentuk oleh salah satu induk P2. Ingat bahwa kedua induknya sama, jadi cukup tuliskan salah satu. Ingat juga kan bahwa rumus mencari gamet adalah 2n dimana n = jumlah alel yang heterozigot.
  • Berdasar gamet yang telah ditulis, kita akan tuliskan langsung fenotifnya berdasarkan sifat fenotif yang dikendalikan oleh gen yang bersangkutan.
  • Berikutnya tuliskan masing-masing jumlah total keturunan pada tiap jenis fenotifnya
  • Selesai
Untuk lebih jelas perhatikan bagan persilangan berikut ini.




Perhatikan pada F2, di situ telah kita tulis kemungkinan gametnya. Dari gamet tersebut kita tulis fenotifnya berdasar sifat fenotif yang dikendalikan oleh gen yang bersangkutan. Misalnya gen B = bulat, H = hitam, b = kisut, dan h = hijau. Jadi kalau gametnya BH maka fenotifnya bulat hitam, dan seterusnya.

Lantas darimana jumlah angka itu diperoleh? Jumlah itu diperoleh dari hasil kali nilai masing-masing gen. Kalau gennya dominan nilainya 3, kalau gennya resesif nilainya 1. Jadi pada gamet BH = 3 x 3 = 9 dan seterusnya. Darimana nilai itu diperoleh? Masih ingat persilangan monohibrid kan? Rasio fenotif monohibrid adalah 3 : 1. Angka 3 itu muncul sebagai manifestasi gen dominan, sedang angka 1 muncul sebagai manifestasi gen resesif. Angka itulah yang kita comot untuk diterapkan pada cara di atas.

Mungkin saja kamu hafal bahwa rasio fenotif pada F2 adalah 9:3:3:1 dan kamu bisa langsung menuliskannya. Tetapi kombinasi gametnya harus urut seperti pada bagan di atas. Jika tidak urut maka rasio fenotifnya bakal salah. Jadi ingat betul nilai masing-masing gen.
Gimana? Lebih cepat kan? Nah, kamu telah belajar cara cepat menyelesaikan soal persilangan berdasar gametnya saja.